Dilema Senja

Dilema Senja
Dilema Senja

Langit mulai meredup
di iringi suara muazin dari kejauhan,
ku masih berdiri dan merenung,
hingga hingar bingar suara menyepi.

Jiwa mulai terasa tenang dan nyaman
ketika nahkoda angin semilir lewati tubuh
harap cemas hujan kan turun,
ketika suara gemuruh tuhan tiba.

Aku rindu senyuman itu
tawa manis sang pujaan
yang buatku berdiri menyepi
berharap semua berhenti.

Emosi sesaat kita, tenggelamkan cinta
mungkin hujan nanti gambarkan luka
kala kita berkata dan saling menghina
aku rindu adinda ..

Senja mulai berganti gelap,
gelap tanpa cahaya, hanya lampu lampu lilin yang menyala
ku pejamkan mata berharap tuhan tahu,
dan tugaskan angin sampaikan rindu.

Datanglah, senyumlah,
temani aku di gelap ini,
gelap yang semakin menghitam, hitam pekat.
semoga tuhan cepat sebelum aku mati di ufuk tertinggi emosi ..

Aku tak mau menangis,
aku hanya ingin tertawa sedikit, Ketika bayang mengajakku berlari
dan berputar putar dalam kenangan kita,
kembali aku menghela nafas dan berkata “ kembalilah “.


Created : Docallisme Feat Crayon Social Art

Beda Koruptor beda pula Maling Ayam

Beda Koruptor beda pula Maling Ayam

            Kedua objek didalam judul ialah fenomena kriminalitas, namun terdapat perbedaan mencolok dari objek tersebut, apa yang beda?? Mungkin kita akan menyadarinya jika mata kita sering tertuju pada kaca layar tv yang seakan meneriakan mereka dari sebuah layar kaca.

            Koruptor orang yang memakan dan mengambil hak rakyat, menelan uang ribuan bahkan jutaan rakyat indonesia ke dalam dompetnya sendiri, itulah koruptor perampas hak hak, perampok dan penkhianat rakyat, beda Indonesia beda pula di china dalam cara menanggulanginya, di china koruptor sangatlan sebuah aib dan sebuah kemaluan jika melakukanya, bahwa hukuman mati jalan satu satunya dalam mempidananya. Di china ityulah yang di lakukan pemerintahnya untuk menekan tindak aksi koruptor, namun miris disini di negeri kita, korupsi adalah hal yang lumrah malah seakan budaya, bukan hal aneh jika di setiap intansi atau lembaga pemerintah ada saja kasus ini, di kepolisian, menteri pendidikan, kesehatan, migas dan kejakasaan, semua rata dengan kasus ini. Jika di china hukum mati adalah hukuman setimpal, lain pula di sini, koruptor seperti dimanjakan seperti di beri angin segar terlihat tanpa beban mereka menjalinya, penjara mewah, ijin berpergian dan keluar dari lapas atau pengurangan masa hukuman itulah realita.






BEDAKAN DENGAN MALING AYAM


            Namun apa yang membedakan mereka para koruptor dengan maling ayam, mungkin jika di beri renting dari keduanya mana yang paling malu atas perilakunya, saya memilih maling ayam, kenapa seperti itu, oke mari kita lihat, mungkin di tv sering di beri tahu berita atau cuplikan berita maling ayam yang di keroyoki warga akibat ulahnya, lihat sisi lainya, mereka setelah melakukan hal itu melutup rapat mukanya, malu akan perbuatanya dan tak mau mukanya sedikit saja di sorot media. Coba kita lihat para koruptor, jika melenggang dari kantor KPK setelah di periksa lembaga yang memberantas korupsi, mereka berjalan dengan tegaknya malah terkesan celeneh, sambil tertawa dan melihat senyum di muka media tak ada rasa malu atau niatan untuk menutup mukanya sendiri, mungkin ada yang seperti itu tapi mayoritas membuka mukanya, walau memakai jaket bertuliskan tahanan KPK namun tetap tak ada rasa malu setelah memakan uang uang yang bukan hak nya. Miris bangsa ini kehilangan sebuah moral dan sifat terdahulunya, pakah ini ambang kehancuran negeri yang kaya akan segalanya !!!!! semoga ini menjadi awal dari kebangkitan bangsa ini dari tidurnya yang panjang, tegaknya keadilan dan kebenaran di semua ranah lembaga pemerintahan. semoga tuhan tak bosan melihat bangsa ini !!




Dialog Dini Hari ( puisi )

Dialog Dini Hari ( puisi )
Dialog Dini Hari

Cahaya Fajar menusuk hati
membukakan mata pada yang telah mati,
yang coba hubungi diri yang masih disini
berdioalog seperti masih berdiri.

Singkat kata singkatkan cerita,
terkadang hanya diam semata
melihat dan melambai,
 seakan rindu.

Tuhan mungkin tau,
keluh kesah sang buah hati
yang tersimpan dalam hati
miliki sejuta arti .

Dialog singkat,
berujung embun dimata
yang selimuti muka,
inilah karunia.

Tuhan oh Tuhan ..
waktumu waktuku,
bisakah kau ulang?
tuk sedikit saja tuk mengulang,
yang indah tuk diingat .

Created : Docallisme feat Crayon Social Art

Tahun yang Katanya Demokrasi

Tahun yang Katanya Demokrasi
Tahun yang Katanya Demokrasi

                Tahun demokrasi, itulah segelintir orang menyebut tahun ini, tahun pemilu atau pemilihan umum. siapa yang tidak tahu, 5 tahun sekali kita merayakan dan menyambut tahun seperti ini, tahun pemilihan presiden 5 tahun kedepan dan melilih caleg caleg yang sudah menggemborkan namanya agar dipilih. Tahun ini Indonesia akan memilih semua wakil rakyatnya untuk 5 tahun kedepan, 5 tahun kedepan kita akan di tentukan oleh pemilu ini, jika kita selektif memilih maka akan tenanglah jiwa dan raga, jika berbalik, maka jangan heran akan terjadi kesalahan mekanisme Dalam negeri ini, karena para wakilnya di plilih secara acak tak sesuai kelayakan !!
            Jika kita sadar di jalan jalan sudah mulai peperangan para calon wakil rakyat kita untuk mendapatkan simpatik warganya agar kelak di pilih, kali ini saya akan sedikit memberi tahu anda tentang itu, tanda tanda jika tahun pemilu datang :
1. Setahun sebelum pemilu berlangsung biasanya sudah muncul orang-orang yang bahasa gaulnya CAPER di halayak public, sering muncul di media dan gembor-gemborkan rencana atau aktivitas sosial yang ia lakukan saat itu. Dan setiap bicaranya agak menjurus ia mampu membenahi negeri ini dari apa yang terjadi, misal kasus korupsi, ia beranggapan bisa menyesaikan kasus kasus korupsi . apa lagi tahun ini setiap calon presidenya punya media tv masing masing, yang secara logika sangatlah muda memperkenalkan dirinya di setiap jam jam berranting tinggi, tugas kita hanyalah selektif dan tahu mananya janji asli dan palsu yang semakin sulit di bedakan !!

2. Setelah itu, mungkin yang paling biasa di tiap tahunya, apa lagi jika bukan poster, baliho atau famplet para CALEG yang terpampang di setiap sudut ruang public, entah ini cara lama bukan? cara yang menurut saya membuang dana malah menjurus pada merusak estetika kota, kota kotor atau terlihat kusam oleh ulah para kader kader partai atau simpatisan CALEG. Mungkin jika rakyat yang pintar ialah rakyat yang memilih para wakil yang tahu dan paham jika cara ini sama sekali tak menyentuh rakyatnya itu sendiri, jika kita bayangkan berapa dana mereka untuk print out banner, baliho atau stiker mungkin puluhan juta mereka gelontorkan untuk misi memperkenalkan mereka atau lebih jelasnya muka mereka(padahal dalam kertas pemilu nanti, foto tak di sertakan hanya nama si CALEG saja) siapa yang bodoh atau mereka punya misi lain, coba saja mereka putar cara jangan  cara yang sudah kusam ini, coba buat inovasi bukan menempel muka muka mereka di sana sini, jika saja uangnya di salurkan ke daerah dapil mereka dengan intrik inovasi dan membantu dapil mereka untuk maju dan ikut serta menampul aspirasi dapilnya mungkin lebih efisien dan mungkin dapat kena langsung dampaknya ke rakyat itu sendiri. Seharusnya para CALEG sadar cara yang saya sebut hanya judi ini sudah seharusnya di lupakan dan berinovasi lagi.

3. Jika kita amanti di sekitaran rumah baik di genteng atau halaman rumah, atau di jembatan atau di lapangan, pinggir jalan dimanapun tempat yang bisa di ikatkan bambu pastilah di situ berkibar bendera berbagai warna hijau, putih, kuning, merah atau pink semua lengkap dengan icon masig masing, dan nomor urut partai tersebut menghiasi setiap sejauh mata memandang tanda ini jelas sudah mendekati tahun atau bulan politik di Indonesia dan sangatlah jelas sangat mengotori ruang public dan timbul di benak saya siapa yang nantinya membersikan itu semua di ruang public nantinya ?

4. Semakin dekat hari pemilihan umum semakin gencar pula kerja CALEG untuk mendapatkan hati rakyatnya atau daerah pilihanya, tak sadar di setiap acara baik majelis, reunian, seminar atau arisan tak luput dari kunjungan para CALEG yang kian giat sambangi tempat itu, berawal kunjungan berakhir ajakan untuk memilih beliau untuk di pilih nantinya. Di momen inilah kerja para CALEG mulai bergerilya mencari simpatik dan sekuat tenaga untuk bisa menarik animo dapilnya segera tetap kan pilihan padanya.

5.  Nah ini yang semakin gawat, biasanya ada waktu untuk partai berkampaye di halayak publik, sayangnya dan anehnya, konon hiburan rakyat katanya, namun dangdut yang erotis malah jadi pilihan, boleh anda lihat di desa-desa setiap partai mengandeng biduan-biduan cantik untuk menghibur para kader dan pendukung partai tersebut, boleh boleh saja jika cara ini memang di sukai warganya, namun apakah dengan hal tersebut Negara kita akan maju apakah dengan hiburan yang seronok itu rakyat akan mengerti misi dan visi partai yang ia dukung ataukah mereka datang memang bertujuan melihat kemolekan tubuh tubuh gadis seksi saja !! pikirkan baik-baik !!, mengapa tak merubah cara dan berinovasi lebih baik, cerdaskan bangsa dengan cara berkampaye yang cerdas, juru kampanye seharusnya merubah cara ini, mengapa tak dilakukan pelatihan atau seminar walaupun cara ini akan minim peminat nantinya namun hal ini bisa cerdaskan bangsa, bukan tontonan erotis ataupun seronok yang di tampilkan.

6. Nah ini mungkin klimaks dari tahun Demokrasi, setelah pemilihan usai dan pemenang di ketahui, dimanakah yang kalah ?? yaap, di rumah sakit jiwa tepatnya, mereka para CALEG yang sudah menggelontorkan hartanya bahkan seluruh tabunganya dan kalah akan depresi dan stress, biasanya jauh jauh hari sudah di siapkan rumah sakit jiwa para CALEG karena setiap tahunya pasti ada hal yang demikian, miris memang dan memang sudah cara yang mereka lakukan salah, kalah pula dan berujung gila. Uang melayang harta terkuras anak istri terbengkalai, nah seharusnya jangalah mengandalkan uang untuk menarik simpatik dan berfikirlah berkali kali jika di suruh ikut menjadi CALEG, bukan hanya Uang yang di butuhkan tapi pemikiran dan kecerdasan, karena CALEG wakil rakyat, wakil rakyatnya bodoh bagaimana rakyatnya, kita berpangkuh padanya jika mereka tak bisa bagaimana mau di pilih, mari selektif dalam memilih nantinya, CALEG yang berkualitas mempunyai cara sendiri dalam menyampaikan visi misinya mungkin bukan memakai cara cara di atas, saya yakin di tumpukan orang munafik masih ada sesosok orang jujur yang bisa merubah negeri ini .

            Dari sekilas yang saya paparkan, mungkin ini versi saya. Semakin dekat pemilu negeri ini, tahunya demokrasi, presiden sampai ke calon DPRD akan di pilih di bilik suara nantinya, apakah yang berkompeten yang terpilih ataukan yang hanya memamerkan janji janji palsu yang naik ke kursi itu, saya yakin rakyat kita sudah dewasa dan tau siapa yang harus di pilih dan di abaikan. “ 5 menit di bilik suara menentukan 5 tahun kedepanya “ mungkin kata kata itu yang seharusnya kita teriakan jangan ada lagi golput atau tak memilih, pilihlah sesuai nurani dan pemikiran jangan mau di bodohi janji manis belaka !!!


Created : Docallisme feat Crayon Social Art

Kemanakah yang bersuara !!

Kemanakah yang bersuara !!
Kemanakah yang bersuara !!

            Ketika dulu saya duduk di bangku SMA bayang tentang menjadi seorang mahasiswa sudah ada di bayang bayang, ketika itu di pikiran saya menjadi mahasiswa adalah hal terlihat menantang, menarik dan pastilah berteriak-teriak untuk membongkar apa yang kita anggap hal yang salah, apa lagi di tv selalu terlihat aksi aksi solidaritas mereka di jalan untuk menuntut kasus ataupun sekedar aksi kecil untuk aparatur pemerintah yang melakukan kesalahan, sungguhlah hal yang sangat menantang adrenalin, disaat kita berhadapan dengan para polisi yang mengawal kita saat aksi dan berteriak langtang untuk mereka kaum  berdasi lapar di senayan atau untuk mereka yang membunuh para orang orang benar di negeri ini, namun ketika saya masuk kuliah di salah satu Universitas negeri di Jakarta hal itu hanyalah bayangan iya hanya bayangan semata .
            Ketika saya berstatus mahasiswa, tak terlihat aksi aksi itu lagi, apa negeri ini sudah kembali pada trek positif yang di dambakan orang kebanyakan?? Apakah negeri ini telah insyaf dan bangun dari mimpi buruknya selama ini?? Salah besar ketika kita ucapkan itu, negeri ini masi porak poranda dengan manusia manusia rakus yang hingar di atas puncak jabatan mereka, masih lapar belum kenyang memakan yang bukan haknya, ketika hal itu saya sadari timbulah pertanyaan dimakah yang bersuara itu?? Kemanakah mereka tak terlihat di jalan meneriakan apa yang seharusnya mereka teriakan.
            Kenyakinan saya bertambah, ketika salah satu sahabat karib saya berkata “ Mahasiswa kita telah bisu, tak lagi bisa bicara “. Ketika itu hati saya bergetar keras seakan menerima kabar buruk, jelas kabar ini sangatlah buruk untuk kita semuanya, kabar yang sangat tak mengenakan sama sekali apa lagi kita yang masih berseragam almamater kampus masing masing. Kenapa saya beranggapan seperti itu, saya teringat cerita teman dulu ketika masih semester 1, ketika dia sedang naik angkutan umum, kala itu buming isu kenaikan harga BBM, teman bercerita di dalam angkot dengan si supir yang terlihat agak kritis menanggapi hal kenaikan BBM menurut versi ia sebagai supir angkot, ketika itu teman saya bertanya “ kenapa engga demo ajah pak ama supir yang lain “. Mungkin pertanyaan dasar ketika kita berada di posisi itu, si sopir menjawab pertanyaan tadi dengan enteng “ yaaa, kita mah nunggu mahasiswa tong, mahasiswa yang gerak duluan kita bakal ngikut di belakangya “. Dari cerita ni saya sedikit kagum, berarti inilah tugas mahasiswa, menyampaikan aspirasi rakyat, dan rakyat juga bergantung pada kita mahasiswa, bagaimana mau menyamoaikan aspirasi jika ksebagaian besar mahasiwa diam,  saya kira hanya dikampus saya yang demikian, namun ternyata di kampus lain juga seperti itu, apakah mereka bosan dengan aksi semacam itu?? Pertanyaan besar buat kita kaum penerus.
            Mungkin karena zaman teknologi yang apa apa bisa kita lakukan dengan tombol dan berkicau di semua sosial media, namun apakah dengan berkicau kita bisa merubah semuanya?? Saya jadi teringat salah satu aksi mural di jalan yang meneriakan kalimat “ lebih baik 1 tindakan dari pada 1000 kali berkicau “. Mungkin benar kalimat itu, berkicau sama dengan tak bertindak jika tak bertindak tak ada perubahan, seperti halnya mobil mogok, jika kita hanya berteriak “ mobil ayoo jalan “ apakah mobil akan bergerak?? Jawabnya pastilah tidak, butuh tindakan yaitu mendorongnya dengan tenaga.
            Semoga zaman bisu ini berlalu, dan semua pemuda bukan hanya mahasiswa bisa kembali berteriak melawan ketidak benaran bukan hanya bisu bukan hanya berdiam diri dan berkicau di jejarin sosial saja, tapi mulai sedikit melakukan aksi aksi kecil untuk kembali balikan gairah untuk menentang ketidak benaran .


Created : Docallisme Feat Crayon Social Art

twitter