Dilema Senja

Dilema Senja

Langit mulai meredup
di iringi suara muazin dari kejauhan,
ku masih berdiri dan merenung,
hingga hingar bingar suara menyepi.

Jiwa mulai terasa tenang dan nyaman
ketika nahkoda angin semilir lewati tubuh
harap cemas hujan kan turun,
ketika suara gemuruh tuhan tiba.

Aku rindu senyuman itu
tawa manis sang pujaan
yang buatku berdiri menyepi
berharap semua berhenti.

Emosi sesaat kita, tenggelamkan cinta
mungkin hujan nanti gambarkan luka
kala kita berkata dan saling menghina
aku rindu adinda ..

Senja mulai berganti gelap,
gelap tanpa cahaya, hanya lampu lampu lilin yang menyala
ku pejamkan mata berharap tuhan tahu,
dan tugaskan angin sampaikan rindu.

Datanglah, senyumlah,
temani aku di gelap ini,
gelap yang semakin menghitam, hitam pekat.
semoga tuhan cepat sebelum aku mati di ufuk tertinggi emosi ..

Aku tak mau menangis,
aku hanya ingin tertawa sedikit, Ketika bayang mengajakku berlari
dan berputar putar dalam kenangan kita,
kembali aku menghela nafas dan berkata “ kembalilah “.


Created : Docallisme Feat Crayon Social Art
Previous
Next Post »

twitter